Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Desember 2008

MUJAHID SEJATI


innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun…
(Bahwasanya semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah)
Selamat jalan saudaraku. Selamat tinggal Mujahidku Imam Samudra, Ali Ghufran (Mukhlas) dan Amrozi.
Kalian benar-benar pejuang tangguh. Kalian benar-benar MUJAHID sejati. Meski banyak yang mencaci dan menghina, bahkan cacian dan hinaan tsb tidak sedikit datang dari kalangan kaum muslim, saudara kalian sendiri. Kalian tidak takut kepada apapun dan siapapun kecuali hanya takut kepada Allah semata. Sungguh kontras dengan banyaknya saudara-saudara kalian yang tahunya teriak-teriak tetapi tidak berbuat apapun ketika saudara-saudaranya dibantai, ditindas, dibombardir, dilecehkan, dihancurkan, di Palestina, di Afghanistan, di Iraq dan banyak lagi di belahan bumi lainnya.
Aku terenyuh sekaligus merasa malu sendiri ketika kalian dengan tanpa ragu lantang berucap : “Lebih baik dicap sebagai ‘TERORIS’ dari pada disanjung sebagai ‘ULAMA’ namun tidak berbuat apa-apa ketika saudara-saudaranya dibantai, dibombardir, dimusnahkan, diperkosa dll”
Apakah dengan Bomb Bali Attack tsb kalian dalam konteks duniawi mengharapkan uang? Harta? Kedudukan? Jabatan? Kehormatan? Atau hal yang serba enak lainnya sebagaimana yang banyak diharapkan oleh kebanyakan orang? Rumah yang mewah dgn ruang yang ber AC? Tidak, sungguh aku tidak melihat sedikitpun kalian bernawaitu seperti itu. Aku justeru melihat, tidak ada yang kalian harapkan, kecuali hanya mengharapkan ridha Allah semata. Kalian begitu mendalami pesan dari ayat-ayat-Nya jauh melampaui banyak Ulama yang sukanya hanya bekoar tanpa bertindak tegas sedikitpun untuk melawan. Kalian lebih mengerti apa itu sepotong kata yang bernama “JIHAD”. Kalian lebih memahami apa itu arti sebuah “HARGA DIRI” di saat banyak orang yang sudah tidak peduli, bahkan banyak yang malah rela mengorbankan harga dirinya hanya sekedar ingin dihargai (dibodohi?) oleh kaum kuffar. Sungguh mengenaskan memang keadaan kebanyakan ummat yang seperti itu.
Wahai saudaraku. Banyak orang tidak mengerti bahkan sepertinya tidak mau mengerti akan apa yang ada dalam hati dan fikiran kalian. Kalian begitu tulus dan begitu tersentuh memperhatikan bayi-bayi yang dibombardir di Afghanistan ketika para orang-tuanya sedang berpuasa Ramadhan. Kalian begitu peduli kepada saudara-saudara muslim yang telah dibantai, dibombardir, dilecehkan, ditawan tanpa diadili dan tanpa akses keluarga untuk bertemu. Kalian begitu terpukul melihat muslimah-muslimah yang diperkosa. Kalian begitu terenyuh menyaksikan saudara-saudara muslim lainnya yang nyawanya tidak dihargai sedikitpun oleh kelompok “Vampire” bin “Dajjal” Israel dan Amerika Cs. Harga nyawa mereka bahkan dinilai lebih rendah dari binatang yang ternajis sekalipun.
MELIHAT SEMUA ITU, KALIAN DENGAN LANTANG TANPA RAGU TELAH BERTERIAK :
===============================================================
“Tangismu wahai bayi-bayi tanpa kepala… dibentur tembok-tembok Palestina… Jeritmu wahai bayi-bayi Afghanistan… yang memangil-manggil tanpa lengan dieksekusi bom-bom jahannam milik ‘SETAN’ Amerika dan begundalnya… Jerit panggilan kesakitan kalian justeru terjadi pada saat ayah-bunda kalian sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan! Rintih kesakitan wahai saudara kami muslimah-muslimah yang diperkosa para tentara “DAJJAL”! Pekik kesakitan wahai saudara-saudara kami di Iraq yang dibombardir tanpa ada yang peduli sedikitpun… Jerit kelaparan di pengungsian… Kedinginan saat tibanya malam… Sementara atas semua penderitaan kalian… Atas semua jerit tangis kesakitan kalian… banyak yang tidak peduli… PBB? Negara-negara Arab? Atau saudara-saudara muslim lainnya? Mereka sudah terlalu banyak disibukkan oleh kemegahan dan kesenangan diri mereka masing-masing… Mereka tidak mau tahu atas segala penderitaan yang kalian alami… Mereka terlalu asyik dan sibuk dengan kemunafikan diri mereka masing-masing… Mereka terlalu sombong dengan segala kenikmatan yang telah Allah berikan… Mereka terlena dengan konsep kebangsaannya masing-masing… Mereka selalu berdalih, “Oh itu kan urusan negara Iraq bukan urusan kita”; “itu kan urusan Afghanistan bukan urusan kita”; “Itu kan urusan Palestina bukan urusan kita”. Yang penting kita aman, yang penting kita kondusif, kita tidak boleh mencampuri urusan yang bukan urusan kita” bla… bla… bla… dengan segudang alasan lainnya… Mereka, dan hampir semua negara muslim terlalu meremehkan akan arti sebuah kalimat dengan dua kata “UKHUWAH ISLAMIYAH”… Mereka seakan lupa atau pura-pura lupa atau bahkan memang benar-benar telah lupa akan pesan Rasulullah bahwa sesama muslim adalah bersaudara bagai sebatang tubuh yang jika ada salah satu bagian tubuh disakiti maka secara otomatis akan sakitlah keseluruhan bagian tubuh… Mereka telah lalai atas segala nikmat dan pesan-pesan ghaib yang Allah peringatkan dalam Kitab Suci-Nya… Mereka tidak mau tahu akan ayat-ayat Allah yang berbunyi : “OLEH SEBAB ITU, BARANG SIAPA YANG MENYERANG KAMU, MAKA SERANGLAH IA SEIMBANG DENGAN SERANGANNYA TERHADAPMU. DAN, JIKA KAMU MENGADAKAN PEMBALASAN, MAKA BALASLAH DENGAN BALASAN YANG SETIMPAL DENGAN SIKSAAN YANG DITIMPAKAN KEPADAMU” (Al Baqarah [2]:194 dan An Nahl [16]:126)
Wahai saudara-saudara kami yang sedang mengharap pertolongan nun jauh di seberang sana. Di Palestina, di Afghanistan, di Iraq, dan di manapun kalian dibantai… Ini kami saudara kalian… Ini kami saudara kalian… Ini kami, wahai saudara-saudaraku… Kami datang dengan secuil bombing… Kami datang dengan secuil keberanian dan kekuatan… Kan kami balaskan sakit hati kalian meski hanya dengan secuil gerakan… Kan kami hibur hati kalian meski hanya dengan secuil hiburan… Kan kami tenteramkan hati kalian meski hanya dengan sejenak ketenteraman… Kan kami penuhi harapan kalian meski hanya dengan secuil harapan… Kan kami balaskan sakit hati kalian dengan segala kerelaan, keikhlasan dan keistiqamahan semata hanya mengharap ridha-Nya… Kan kami lakukan semua itu meski nyawa kami sekalipun sebagai taruhan… Darah dengan darah… Nyawa dengan nyawa… Bom dengan bom… Sipil dengan sipil… Siksaan dengan siksaan… QISHASH!!! Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar!!!”
===============================================================
Wahai saudaraku “Mujahid” Imam Samudra, Ali Ghufran dan Amrozi. Kami terenyuh mendengar kalimat-kalimat Mujahidmu di atas. Kami terharu sekaligus bangga melihat ketegaranmu. Kami merasa malu… kami merasa kecil… kecil sekali jika disandingkan dengan kebesaran kalian… Tidak ada seujung kukupun apa yang ada pada kami dibandingkan dengan kalian. Kami hanyalah bagai setetes air di tengah samudra yang luas, dan kalianlah samudranya.
Meski jasad kalian telah hancur. Meski tubuh kalian telah ditimbun tanah. Meski hidup kalian sudah tidak di alam fana ini lagi. Semangat kalian tidak akan pernah luntur. Perjuangan kalian tidak akan pernah surut. Syahid 1, tumbuh 1.000 Mujahid. Syahid 3, tumbuh 3.000 Mujahid. Selama kaum kuffar tetap dengan kesombongannya… Selama kaum kuffar tetap dengan kecongkakannya… Selama kaum kuffar tetap dengan kebengisannya… Selama kaum kuffar tetap dengan keculasannya… Selama kaum kuffar tetap dengan ketamakannya… Selama kaum kuffar tetap dengan permusuhannya… Selama kaum kuffar yang aktor-aktornya masih tetap berkeliaran tidak tersentuh hukum di Pengadilan Internasional sedikitpun… Insya Allah… Insya Allah… Insya Allah…, Allah akan berikan lagi Mujahid-Mujahid baru untuk meneruskan perjuangan kalian…
Kehancuran kaum kuffar sudah semakin terlihat jelas di depan mata… Ekonomi kapitalis yang mereka agung-agungkan sudah mulai runtuh… Kaum kuffar sudah semakin resah… Keperkasaan Allah sudah mulai ditampakkan-Nya melalui para Mujahid-Mujahid seperti kalian… Perjuangan kalian telah menggentarkan sampai ke tulang sumsum musuh-musuh Allah…
Wahai pejuangku… Wahai Mujahidku… Selamat jalan saudaraku… Selamat tinggal saudaraku… Selamat menghadap ke haribaan Allah dengan tenang dan damai di sisi-Nya…
Semangatmu akan selalu menjadi inspirator… Istiqamahmu akan selalu menjadi tauladan… Kejujuranmu akan selalu menjadi landasan… Keberanian dan ketegaranmu akan selalu menjadi kebanggaan…
Kami bangga… kami bangga… kami bangga… Meski kami terlalu kecil jika disandingkan dengan kalian…
Selamat jalan saudaraku… Tidurlah dengan tenang di haribaan-Nya… Do’a kami selalu mengiringi kalian… Do’a saudara-saudaramu yang sedang merintih, teraniaya dan tertindas nun jauh di seberang sana (Palestina, Afghanistan, Iraq dll) akan selalu berkumandang…
Ya… Allah. Engkau Maha Tahu segalanya, baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Kami rela melepas mereka menghadap ke hadirat-Mu. Tempatkanlah mereka dengan sebaik-baik tempat di sisi-Mu.
Rabbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaabannaar….. Amin… ya… rabbal’aalamiin…

Selengkapnya....

Rabu, 22 Oktober 2008

Sumpah Pemuda dan Kemandirian Bangsa


Oleh: Siswono Yudo Husodo
Ketua Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Universitas Pancasila


Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dikenang sebagai lahirnya kesepakatan unsur-unsur bangsa yang sangat heterogen untuk menjadi bangsa yang satu. Itulah saat resmi lahirnya bangsa Indonesia, yang sebelumnya nomenklatur Indonesia belum digunakan untuk menamai suatu bangsa, suatu bahasa, dan suatu tanah air. Meskipun serupa dalam semangatnya untuk menyatukan Nusantara, Sumpah Pemuda berbeda dengan Sumpah Palapa yang diucapkan Mahapatih GajahMada. Sumpah Palapa menempatkan Kerajaan Majapahit sebagai pusat; Sumpah Pemuda ingin menyatu, membangun persatuan dalam napas kebebasan, persaudaraan dan kesetaraan; bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, Indonesia. Negara kebangsaan Indonesia yang menaungi bangsa baru itu lahir 17 tahun kemudian, melalui Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Selayaknyalah peristiwa bersejarah yang demikian penting itu diperingati dengan mendalami semangat yang terkandung dalam peristiwa itu. Secara umum, perjuangan bangsa kita untuk mencapai kemerdekaan bercorak amat lengkap. Ada upaya politik, sosial, dan budaya di mana Sumpah Pemuda adalah salah satu tonggak pentingnya. Ada upaya dalam dimensi intelektual dengan banyak buah pikir ideologis yang amat bermutu karya para pendiri Republik yang sangat intelektual dan banyak membaca buku-buku bermutu. Juga ada perjuangan bersenjata.

Tak banyak bangsa terjajah yang memiliki kemampuan untuk mengorganisir perjuangan kemerdekaannya dalam arena politik, sosial, budaya, intelektual ideologis, dan perjuangan bersenjata secara simultan seperti bangsa kita. Untuk mencapai kemerdekaan itu juga ada pilihan jalan yang lebih tenang dan perlahan, dengan patuh pada skenario masa depan bangsa yang dirancang penjajah, yang juga ditempuh oleh beberapa negara jajahan. Pendiri bangsa Generasi pendiri bangsa dan negara ini memperlihatkan karakter bangsa pejuang yang ulet dan hebat, yang menolak didikte dan merancang sendiri skenario masa depan bangsanya.
Banyak yang menyatakan bahwa generasi pendiri bangsa kita adalah “the golden generation”, karena mereka bukan saja terdidik tetapi juga tercerahkan dan memiliki semangat perjuangan yang amat besar, dengan percaya diri merebut kemerdekaan dan membangun kemandirian bangsanya.

Melihat Indonesia hari ini, sepatutnya kita malu kepada generasi terdahulu tersebut. Esensi penting Sumpah Pemuda yang berupa semangat persatuan di antara unsur-unsur bangsa yang bhinneka dan tekad untuk membangun bangsa yang mandiri telah dirusak oleh berbagai peristiwa belakangan ini. Sekelompok kecil fundamentalis “membajak” agama Islam, melakukan tindakan anarkis seperti penutupan dan perusakan sarana ibadah agama lain di berbagai tempat, perusakan toko yang menjual minuman beralkohol untuk warga non-Muslim atau orang-orang asing di Kemang, hingga aksi bom bunuh diri dan lain-lain tindakan radikalisme yang memusuhi kemanusiaan dan merusak upaya membangun persaudaraan kebangsaan.

Di sisi lain, kita juga patut prihatin bahwa sebagai suatu bangsa, tekad kita untuk menjadi bangsa yang mandiri kian merosot dan ketergantungan kita semakin meningkat. Manifestasinya terlihat dari orientasi solusi yang diambil setiap kita menghadapi peningkatan kebutuhan yang bisa kita produksi sendiri. Kekurangan beras, solusinya impor beras, hingga kita pernah menjadi negara importir beras terbesar di dunia. Kekurangan gula solusinya juga impor, hingga sekarang kita mengimpor gula 40 persen dari kebutuhan nasional. Pada waktu kekurangan daging sapi, solusinya impor dan sekarang setiap tahun kita mengimpor sekitar 550.000 ekor sapi.
Padahal untuk semua itu, dengan biaya yang lebih rendah, serta menghemat devisa, kita bisa membuat solusi dengan meningkatkan produksi. Sewaktu ditemukan deposit tembaga dan emas yang amat besar di Papua, kita menyerahkannya kepada Freeport. Sewaktu ditemukan cadangan minyak yang besar di Cepu, kita menyerahkannya kepada Exxon. Padahal, dengan dukungan tenaga-tenaga ahli dan permodalan yang tersedia di dunia ini, kita juga mampu mengerjakannya sendiri, seperti yang dilakukan oleh Arifin Panigoro dengan Medco-nya.
Indonesia perlu melahirkan puluhan Arifin Panigoro, juga puluhan Rusdi Kirana yang mampu mengembangkan Lion Air yang berdaya saing tinggi dan puluhan Ir SL Tobing yang membangun air minum kota Batam yang efisien. Itu semua hanya bisa berlangsung manakala mereka memperoleh kesempatan dari negara. Kita akan bisa kalau kita yakin kita bisa.

Bukti-bukti empirik semua negara bangsa di bumi ini meyakinkan saya bahwa kemandirian adalah kebutuhan yang esensial bagi suatu bangsa yang ingin tetap merdeka. Utang luar negeri negara kita setiap tahun juga terus meningkat. Di akhir 21 tahun pemerintahan Bung Karno pada tahun 1966, utang LN negara kita hanya 2,5 miliar dollar AS; 53 tahun setelah merdeka, diakhir pemerintahan Presiden Soeharto pada tahun 1998 utang LN kita menjadi 54 miliar dollar AS. Hanya dalam waktu empat tahun, antara tahun 1998-2002, utang LN kita bertambah 23 miliar dollar AS menjadi 77 miliar dollar AS.
Berdirinya negara Sejak awal berdirinya negara kita sampai dengan tahun 2002, cicilan pokok dan bunga utang LN Pemerintah RI yang telah kita bayar berjumlah 127 miliar dollar AS, dan kita masih mempunyai utang ke luar negeri 77 miliar dollar AS.

Banyaknya devisa yang kita gunakan untuk membayar bunga dan cicilan pokok utang luar negeri telah mengurangi kemampuan negara untuk melakukan pembangunan bagi kesejahteraan rakyat dan menekan nilai rupiah. Utang LN Indonesia, yang terlalu banyak, telah menjadi beban bagi negara. Sebagai suatu entitas ekonomi, negara memang wajar berutang ke luar negeri. Berbagai pembangunan yang telah kita lakukan, antara lain bandara dan pelabuhan; irigasi dan PLTA seperti Jatiluhur, Asahan; persenjataan perang untuk membebaskan Irian Barat; fasilitas telekomunikasi Satelit Palapa dan lain-lain sebagian juga dibiayai dari utang luar negeri. Jepang yang sekarang sangat sejahtera dan modern juga pernah berutang keluar negeri pasca-Perang Dunia II untuk rekonstruksi dan membayar pampasan perang.

Tentu harus ada batas, kapan kita mulai mengurangi utang dan melunasinya. Jepang berhenti berutang tahun 1960, mulai mengangsur tahun 1961 dan melunasi seluruh utang luar negerinya tahun 1975. Tahun 1977 Jepang mulai menjadi negara donor, dan sekarang telah menjadi negara donor terbesar untuk banyak negara, termasuk Indonesia. Semangat Sumpah Pemuda dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah pernyataan politik untuk menjadi bangsa yang merdeka dan mandiri.

Bung Karno menegaskannya dalam Pidato Trisakti tahun 1963; Berdaulat secara politik, Berdikari secara ekonomi, dan Berkepribadian secara sosial budaya. Negara yang berhasil membangun kemandiriannya akan menumbuhkan kebanggaan pada warganya dan mendorong mereka berprestasi maksimal bagi kemajuan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negaranya.
Dengan kemandirian itulah eksistensi suatu bangsa dan standar kesejahteraan yang tinggi bagi setiap warganya akan terjamin.Membangun kemandirian bangsa di era sekarang juga berarti meningkatkan integritas dan kapabilitas bangsa untuk dapat secara cerdas menentukan pilihan dan mewujudkan cita-cita membangun negara modern yang bertumpu pada kemampuannya sendiri, dengan memanfaatkan dinamika dunia yang semakin didorong maju oleh proses globalisasi.
Dengan utang negara yang terlalu besar dibandingkan dengan PDB, di dunia yang semakin menempatkan ekonomi sebagai faktor penting, telah membuat kedaulatan negara menjadi rapuh. Sekali berkembang budaya berutang, berapa pun tidak akan pernah cukup karena peningkatan kemampuan ekonomi bangsa selalu kurang dari peningkatan harapan dan keinginan warganya. Peningkatan harapan dan keinginan adalah hal yang positif yang akan mendorong kemajuan. Meningkatnya harapan dan keinginan itu janganlah dipenuhi dengan berutang, tetapi dipenuhi dengan meningkatkan kemandirian dan kemampuan bangsa yang akan semakin memperbesar kekuatan bangsa dan kedaulatan negara. Pilihan ke arah berutang semakin mendorong ketergantungan bangsa.
Diperlukan keputusan politik untuk mulai mengurangi utang ke luar negeri sesegera mungkin, dan akhirnya melunasi seluruh utang LN kita, paling tidak dalam waktu 30 tahun; sebagai wujud tekad kemandirian ekonomi bangsa.

Tekad berhenti berutang dan melunasi seluruh utang LN itu bukanlah masalah bisa atau tidak bisa, tapi mau atau tidak mau, berani atau tidak berani. Upaya memperbesar PDB untuk membuat utang LN relatif mengecil harus semakin ditumpukan pada kegiatan ekonomi masyarakat dan porsi APBN dengan utang LN di dalamnya harus semakin berkurang.
NPV (Nett Present Value) utang LN juga bisa diturunkan dengan meminta diskon bunga dan perpanjangan jangka waktu pelunasan. Indonesia juga berpeluang meningkatkan program debt-swap (konversi utang) yang telah kita lakukan, di antaranya untuk memajukan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat, pengentasan kemiskinan, dan pembangunan infrastruktur pedesaan. Kegiatan lobi internasional perlu ditekankan pada isu beban utang yang terlalu berat dan keberlanjutan utang Indonesia (Indonesia’s debt sustainability), dikaitkan dengan Millenium Development Goal’s (MDG), dan mengupayakan tambahan fasilitas perdagangan internasional, guna memupuk devisa, yang amat positif bagi kemajuan ekonomi kita di tengah semakin ketatnya persaingan dipasar global saat ini.

Setiap tahun perlu diupayakan agar utang baru selalu lebih kecil daripada angsuran utang lama.
Kita perlu kerja keras yang cerdas dan kembali pada karakter bangsa pejuang yang ulet dan intelektual, yang akan mengantarkan kita pada kemandirian bangsa dan kemerdekaan yang sejati.

Selengkapnya....

Selasa, 02 September 2008

Pelestarian Lingkungan Hidup menurut Islam

Islam adalah Diin yang Syaamil (Integral), Kaamil (Sempurna) dan Mutakaamil (Menyempurnakan semua sistem yang lain), karena ia adalah sistem hidup yang diturunkan oleh Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, hal ini didasarkan pada firman ALLAH SWT : "Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan AKU cukupkan atasmu nikmatku, dan Aku ridhai Islam sebagai aturan hidupmu." (QS. 5 : 3). Oleh karena itu aturan Islam haruslah mencakup semua sisi yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya. Demikian tinggi, indah dan terperinci aturan Sang Maha Rahman dan Rahim ini, sehingga bukan hanya mencakup aturan bagi sesama manusia saja, melainkan juga terhadap alam dan lingkungan hidupnya

Pelestarian alam dan lingkungan hidup ini tak terlepas dari peran manusia, sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana yang disebut dalam QS Al-Baqarah: 30 (“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”…). Arti khalifah di sini adalah: “seseorang yang diberi kedudukan oleh Allah untuk mengelola suatu wilayah, ia berkewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang hubungannya dengan Allah baik, kehidupan masyarakatnya harmonis, dan agama, akal dan budayanya terpelihara”. Di samping itu, Surat Ar-Rahman, khususnya ayat 1-12, adalah ayat yang luar biasa indah untuk menggambarkan penciptaan alam semesta dan tugas manusia sebagai khalifah.

Ayat ini ditafsirkan secara lebih spesifik oleh Sayyed Hossein Nasr, dosen studi Islam di George Washington University, Amerika Serikat. dalam dua bukunya “Man and Nature (1990)” dan “Religion and the Environmental Crisis (1993)”, yang disajikan sebagai berikut:
“……Man therefore occupies a particular position in this world. He is at the axis and centre of the cosmic milieu at once the master and custodian of nature. By being taught the names of all things he gains domination over them, but he is given this power only because he is the vicegerent (khalifah.) of God on earth and the instrument of His Will. Man is given the right to dominate over nature only by virtue of his theomorphic make up, not as a rebel against heaven.” Jelaslah bahwa tugas manusia, terutama muslim/muslimah di muka bumi ini adalah sebagai khalifah (pemimpin) dan sebagai wakil Allah dalam memelihara bumi (mengelola lingkungan hidup).

Allah telah memberikan tuntunan dalam Al-Quran tentang lingkungan hidup. Karena waktu perenungan, hanya beberapa dalil saja yang diulas sebagai landasan untuk merumuskan teori tentang lingkungan hidup menurut ajaran Islam.
Dua dalil pertama pembuka diskusi ini bersumber pada Surat Al An’aam 101 dan Al Baqarah 30. Dalil pertama adalah: “Allah pencipta langit dan bumi (alam semesta) dan hanya Dialah sumber pengetahuannya”. Lalu dalil kedua menyatakan bahwa manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Perlu dijelaskan bahwa menjadi khalifah di muka bumi itu bukan sesuatu yang otomatis didapat ketika manusia lahir ke bumi. Manusia harus membuktikan dulu kapasitasnya sebelum dianggap layak untuk menjadi khafilah.
Seperti halnya dalil pertama, dalil ke tiga ini menyangkut tauhid. Hope dan Young (1994) berpendapat bahwa tauhid adalah salah satu kunci untuk memahami masalah lingkungan hidup. Tauhid adalah pengakuan kepada ke-esa-an Allah serta pengakuan bahwa Dia-lah pencipta alam semesta ini. Perhatikan firman Allah dalam Surat Al An’aam 79:
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”

Dalil ke empat adalah mengenai keteraturan sebagai kerangka penciptaan alam semesta seperti firman Allah dalam Surat Al An’aam, dengan arti sebagai berikut, “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang..”
Adapun dalil ke lima dapat ditemukan dalam Surat Hud 7 yang menjelaskan maksud dari penciptaan alam semesta, “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,….Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya.”

Itulah salah satu tujuan penciptaan lingkungan hidup yaitu agar manusia dapat berusaha dan beramal sehingga tampak diantara mereka siapa yang taat dan patuh kepada Allah.

Dalil ke enam adalah kewajiban bagi manusia untuk selalu tunduk kepada Allah sebagai maha pemelihara alam semesta ini. Perintah ini jelas tertulis dalam Surat Al An’aam 102 yaitu, “..Dialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu”
Dalil ke tujuh adalah penjabaran lanjut dari dalil kedua yang mewajibkan manusia untuk melestarikan lingkungan hidup. Adapun rujukan dari dalil ini adalah Surat Al A’raaf 56 diterjemahkan sebagai berikut; “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya……..” Selanjutnya dalil ke delapan mengurai tugas lebih rinci untuk manusia, yaitu menjaga keseimbangan lingkungan hidup, seperti yang difirmankanNya dalam surat Al Hijr 19, ”Dan kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.”

Dalil ke sembilan menunjukkan bahwa proses perubahan diciptakan untuk memelihara keberlanjutan (sustainability) bumi. Proses ini dikenal dalam literatur barat sebagai: siklus Hidrologi.
Dalil ini bersumber dari beberapa firman Allah seperti Surat Ar Ruum 48, Surat An Nuur 43, Surat Al A’raaf 57, Surat An Nabaa’ 14-16, Surat Al Waaqi’ah 68-70, dan beberapa Surat/Ayat lainnya. Penjelasan mengenai siklus hidrologi dalam berbagai firman Allah merupakan pertanda bahwa manusia wajib mempelajarinya. Perhatikan isi Surat Ar Ruum: 48 dengan uraian siklus hidrologi berikut ini. Hujan seharusnya membawa kegembiraaan karena menyuburkan tanah dan merupakan sumber kehidupan.
Surat Ar Ruum 48 Siklus hidrologi
Mencakup proses evaporasi, kondensasi, hujan, dan aliran air ke sungai/danau/laut, Al-Qur’an dengan sangat jelas menjabarkannya. Evaporasi, adalah naiknya uap air ke udara. Molekul air tersebut kemudian mengalami pendinginan yang disebut dengan kondensasi. Kemudian terjadi peningkatan suhu udara, yang menciptakan hujan. Air hujan tersebut menyuburkan bumi dan kemudian kembali ke badan air (sungai, danau atau laut.

Ini dengan jelas digambarkan dalam Al-Qur’an surat ar-Ruum:48 yang berbunyi;
“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hambahamba-Nya yang dikehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.”
Sebagai khalifah, sudah tentu manusia harus bersih jasmani dan rohaninya. Inilah inti dari dalil ke sepuluh bahwa kebersihan jasmani merupakan bagian integral dari kebersihan rohani.

Merujuk pada Surat Al-Baqarah 222; “….sesungguhnya Allah senang kepada orang yang bertobat, dan senang kepada orang yang membersihkan diri.” Serta Surat Al-Muddatstsir 4-5; “..dan bersihkan pakaianmu serta tinggalkan segala perbuatan dosa.”
Meski slogan yang dikenal umum seperti “kebersihan adalah sebagian dari iman”, banyak diakui sebagai hadis dhaif, namun demikian, Rasulluah S.A.W. bersabda bahwa iman terdiri dari 70 tingkatan: yang tertinggi adalah pernyataan “tiada Tuhan selain Allah” dan yang terendah adalah menjaga kerbersihan. Jadi, memelihara lingkungan hidup adalah menjadi bagian integral dari tingkat keimanan seseorang. Khususnya beragama Islam.

Mengutip disertasi Abdillah (2001), Surat Luqman ayat 20 Allah berfirman, “Tidakkah kau cermati bahwa Allah telah menjadikan sumber daya alam dan lingkungan sebagai daya dukung lingkungan bagi kehidupanmu secara optimum. Entah demikian, masih saja ada sebagian manusia yang mempertanyakan kekuasaan Allah secara sembrono. Yakni mempertanyakan tanpa alasan ilmiah, landasan etik dan referensi memadai.”Selain itu, Abdillah juga mengutip bahwa manusia harus mempunyai ketajaman nalar, sebagai prasyarat untuk mampu memelihara lingkungan hidup. Hal ini bisa dilihat Surat Al Jaatsiyah 13 sebagai berikut; “Dan Allah telah menjadikan sumber daya alam dan lingkungan sebagai daya dukung lingkungan bagi kehidupan manusia. Yang demikian hanya ditangkap oleh orang-orang yang memiliki daya nalar memadai.”

Dalil-dalil di atas adalah pondasi dari teori pengelolaan lingkungan hidup yang dikenal dengan nama “Teorema Alim” yang dirumuskan sebagai berikut:
Misi manusia sebagai khalifah di muka bumi adalah memelihara lingkungan hidup, dilandasi dengan visi bahwa manusia harus lebih mendekatkan diri pada Allah. Perangkat utama dari misi ini adalah kelembagaan, penelitian, dan keahlian. Adapun tolok ukur pencapaian misi ini adalah mutu lingkungan. Berdasarkan “Teorema Alim” ini, kerusakan lingkungkan adalah cerminan dari turunnya kadar keimanan manusia.

Rasulullah S.A.W. dan para sahabat telah memberikan teladan pengelolaan lingkungan hidup yang mengacu kepada tauhid dan keimanan. Seperti yang dilaporkan Sir Thomas Arnold (1931) bahwa Islam mengutamakan kebersihan sebagai standar lingkungan hidup. Standar inilah yang mempengaruhi pembangunan kota Cordoba. Menjadikan kota ini memiliki tingkat peradaban tertinggi di Eropa pada masa itu. Kota dengan 70 perpustakaan yang berisi ratusan ribu koleksi buku, 900 tempat pemandian umum, serta pusatnya segala macam profesi tercanggih pada masa itu. Kebersihan dan keindahan kota tersebut menjadi standar pembangunan kota lain di Eropa.

Contoh lain adalah inovasi rumah sakit dan manajemennya (Arnold, 1931). Pada masa itu manajemen rumah sakit sudah sedemikian canggihnya sebagai pusat perawatan dan juga pusat pendidikan calon-calon dokter. Rumah sakit tersebut sudah memiliki ahli bedah, ahli mata, dokter umum, perawat, dan administrator. Tercatat 34 rumah sakit yang tersebar dari Persia ke Maroko serta dari Siria Utara sampai ke Mesir. Rumah sakit pertama yang berdiri di Kairo pada tahun 872 Masehi, bahkan beroperasi selama 700 tahun kemudian. Inovasi bidang kesehatan ini bahkan berkembang sampai pada penemuan ambulan atau menurut Arnold (1931) sebagai “traveling hospital”.

Teorema Alim ini mengandung dua unsur yaitu misi dan tolok ukur. Misi dapat diemban apabila diiringi visi mendekatkan diri pada Allah dan dibekali ketajaman nalar, yaitu kelembagaan, keahlian, dan kegiatan. Tolok ukur yang jelas adalah mutu lingkungan hidup di Indonesia sebagai rambu-rambu untuk menilai keberhasilan pelaksanaan misi manusia yaitu mencegah bumi dari kerusakan lingkungan.

Dapat dikatakan Indonesia telah memiliki perangkat yang cukup untuk mencapai misi yaitu kelembagaan dalam bidang lingkungan hidup (Menteri Negara Lingkungan Hidup, Pusat Studi Lingkungan Hidup, dan lainnya), tak terbilang jumlah doktor yang mendalami ilmu lingkungan, serta intensitas yang tinggi dalam penelitian lingkungan. Namun simaklah sekali lagi berbagai persoalan lingkungan hidup di Indonesia berikut ini. Menatap langit di sepanjang jalan Sudirman, seorang awam sudah tahu bahwa udara Jakarta memang beracun. Penyakitpun datang silih berganti, dan kali ini penyakit mematikan seperti HIV, SAR, demam berdarah, dan flu burung berjangkit di mana-mana.

Terlebih lagi air sungai sungguh sangat kotor karena pembuangan sampah padat. Sungai Ciliwung, misalnya, setiap hari menampung 1,400 M3 sampah (Kompas, 1996). Hal ini berarti bahwa kurang lebih 200-400 truk membuang sampah padat ke sungai tersebut setiap harinya! Pelayanan air minum juga sangat rendah. Alim (2005) melaporkan bahwa baru sekitar 40 persen penduduk mendapat pelayanan air bersih, dan dari total volume air yang disalurkan hanya 20% yang layak digunakan karena umumnya air yang sampai ke rumah masih berlumpur.

Hal ini diperburuk oleh kondisi pemerintahan di Indonesia karena aparat yang ingkar amanah.
Salah satu contoh kebohongan pemerintah adalah kasus kebakaran hutan. Soentoro (1997) melaporkan bahwa kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 1997 telah menghanguskan 1 juta hektar hutan, nyatanya pemerintah melaporkan 300,000 hektar saja. Masalah tidak transparannya birokrasi sudah lama mengganjal jalannya roda pemerintahan.
Sudah jelas bahwa ketajaman nalar yang tidak diiringi oleh kadar keimanan tinggi serta jauhnya umat Islam dari Allah, telah menciptakan masalah lingkungan hidup.

Menyadari runyamnya masalah lingkungan hidup, langkah pertama pemecahannya adalah peningkatan “ukhuwah” (kerjasama) antar ilmuwan dan alim-ulama agar bahu-membahu mampu mengemban amanat Allah untuk memelihara bumi. Salah satu hasil kerjasama tersebut adalah program pelatihan bagi para tokoh agama untuk memperdalam wawasan lingkungan hidup. Solusi jangka pendek lainnya adalah penyusunan program pemeliharaan lingkungan sebagai materi khutbah jumat, serta penerbitan fatwa untuk menghentikan pencemaran sungai.

Untuk jangka panjang perlu digarap sektor pendidikan dimana perlu dikembangkan bidang ilmu ataupun kurikulum yang menjadian ilmu pelestarian lingkungan hidup adalah bagian integral dari kajian ajaran Islam. Pengembangan disiplin ini juga perlu mempertimbangkan ukhuwah yang bersifat internasional, karena persoalan lingkungan hidup juga telah membebani negara muslim lainnya. Dengan pendidikan akan tumbuh kesadaran bahwa lingkungan hidup bukan bidang yang menjadi monopoli peradaban barat, tetapi merupakan bagian integral dari keimanan.

Salah satu contoh pendekatan pelestarian lingkungan melalui Al-Qur’an dan Al-Hadits yang berhasil adalah di Tanzania. Bekerjasama dengan CARE-organisasi bantuan untuk memberantas kemiskinan di dunia-IFEES menggelar pertemuan dengan para pemuka agama dan para nelayan untuk mendiskusikan bagaimana hubungan antara ayat-ayat yang ada dalam al-Quran dengan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan. Dengan menggunakan ayat-ayat al-Quran serta hadist, mereka berusaha meyakinkan para nelayan untuk tidak lagi menggunakan dinamit, jala dan tombak ketika menangkap ikan.

IFEES juga bekerjasama dengan Misali Island Conservation (MICA)-lembaga yang bergerak dalam perlindungan terumbu karang-untuk melatih para imam-imam masjid di Tanzania agar mampu menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan lewat khutbah-khutbah Jumat mereka. IFEES yang berbasis di Inggris, adalah salah satu organisasi yang pada tahun 1998 meluncurkan proyek penyadaran kelestarian lingkungan dengan menggunakan basis ajaran Islam. "Kami mencari ajaran-ajaran yang sudah terlupakan itu dan mengumpulkannya kembali dalam bentuk yang modern, " kata Khalid.
"Saya sekarang tahu bahwa cara saya menangkap ikan selama ini sudah merusak lingkungan. Konservasi ini bukan dari mzungu (kata untuk menyebut orang kulit putih dalam bahasa Swahili, yang digunakan di seluruh Afrika Timur-red), tapi dari al-Quran, " ujar Salim Haji, seorang nelayan di sebuah pulau kecil. Proyek ini membuahkan hasil setahun setelah diluncurkan, terutama di Misali dan kepulauan Zanzibar yang didominasi warga Muslim. Saat ini, banyak nelayan di Misali yang sudah mengganti alat penangkap ikannya dengan alat yang lebih ramah lingkungan dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.***

Selengkapnya....

Senin, 18 Agustus 2008

Petuah Ayah Hiawatha...

Anakku...
kau tahu bahwa tak seorangpun
akan menolongmu di dunia ini
jelajahilah rimba-rimba belantara
naikilah puncak-puncak gunung
itu akan membuatmu perkasa

Anakku...
kau tahu bahwa tak seorangpun
yang dapat kau sebut sahabat sejati di dunia ini
hampir tidak juga saudaramu, ataupun ibumu
bahkan juga ayahmu

Kakimu adalah sahabatmu
pikiranmu adalah sahabatmu
juga rambut dan tanganmu
adalah sahabat-sahabatmu
kau harus berbuat sesuatu dengan
semua yang kau miliki itu

Suatu hari....
kau akan berada diantara beberapa kesulitan
tapi kau telah memiliki diri yang sanggup
untuk menghindarkan

Bila kau pergi kemananpun
kau harus hancurkan musuh
yang mencoba menyerangmu
sebelum mereka melampaui bukit kemenangan
sebelum mereka menyerangmu
kau harus sudah berdiri tegak dimukanya
dan....... hancur leburkan!
sekaligus...........

Anakku .....
ingatlah selalu pada penciptamu
ikutilah jalan ini,kelak kau akan bahagia.....

Selengkapnya....

About This Blog

  © Blogger template 'Blue Greens' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP